Senin, 09 Januari 2012

HALUSINASI



A.  Pengertian
Halusinasi adalah suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal tanpa stimulus dari luar. Halusinasi merupakan pengalaman terhadap mendengar suara Tuhan, suara setan dan suara manusia yang berbicara terhadap dirinya, sering terjadi pada pasien skizofrenia ( Stuart and Sundeen, 1991 ).
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan suatu yang sebenarnya tidak terjadi.Suatu penerapan panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar. Keyakinan tentang halusinasi adalah sejauh mana pasien itu yakin bahwa halusinasi merupakan kejadian yang benar, umpamanya mengetahui bahwa hal itu tidak benar, ragu-ragu atau yakin sekali bahwa hal itu benar adanya ( Maramis, 2004).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah dimana seseorang mempersepsikan sesuatu tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar.
B.     Jenis-jenis Halusinasi
Jenis-jenis Halusinasi menurut Stuart dan Laraia (2001), meliputi :
1.    Halusinasi Pendengaran / akustik
Karakteristik : mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan kepercakapan lengkap antara dua orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang-kadang membahayakan.
2.    Halusinasi Penglihatan / visual
Karakteristik : Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometri, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenagkan atau menangkutkan seperti melihat monster, tanpa ada stimulus yang nyata.
3.    Halusinasi Penghidu
Karakteristik :Merupakan persepsi bau yang palsu. Umumnya halusinasi bau berupa bau busuk dan harum (bunga),  tanpa ada stimulus yang nyata.
4.    Halusinasi Pengecapan
Klien merasakan sesuatu seperti merasakan rasa manis,asam dsb. yang tidak nyata.
5.    Halusinasi Perabaan
Klien merasakan sesuatu pada kulitnya seperti ada yang mengelus elus tanpa ada stimulus yang nyata.

C.    Tahap- tahap halusinasi (Stuart- Sundeen, 1998)
  1. Tahap I (COMFORTING)
        Secara umum bersifat menyenangkan,memberi rasa aman, tingkat kecemasan sedang.
Karakteristik :
a.     Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah, ketakutan.
b.     Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan rasa cemas.
c.     Pikiran dan pengalaman sensori masih dalam kontrol jika cemas dapat diatasi.
  1. Tahap II
 Menyalahkan, kecemasan meningkat, secara umum halusinasi menyebabkan rasa antipati.
Karakteristik :
a.     Pengalaman sensasi yang menakutkan.
b.     Merasa kehilangan kontrol
c.     Berusaha menjauhkan diri dari sumber yang dipersepsikan.
d.    Perasaan malu dan menarik diri.
  1. Tahap III
        Mengontrol, tingkat kesadaran berat. Pengalaman sensori tidak dapat ditolak.
Karakteristik :
a.       Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori
b.      Terbiasa dengan halusinasinya dan tidak berdaya.
c.       Kesepian bila pengalaman sensori berakhir.
  1. Tahap IV
 Menguasai, tingkat kecemasan panik, dipengaruhi oleh delusi / waham.
Karakteristik :
a.       Pengalaman sensori menakutkan dan mengancam.
b.      Dapat berlangsung selama beberapa jam/ hari
D. Etiologi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah :
1. Faktor Predisposisi
a.       Biologis
Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologis yang maladaptif yang baru mulai dipahami. Termasuk hal-hal berikut :         a) Penelitian pencitraan otak sudah mulai menunjukkan keterlibatan otak yang luas dalam perkembangan skizofrenia, b) Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizofrenia. Hasil penelitian sangat menunjukkan hal-hal berikut ini 1) Dopamine neurotransmitter yang berlebihan, 2) Ketidakseimbangan antara dopamine dan neurotransmitter lain, 3) Masalah-masalah pada system reseptor dopamine.Keluarga dengan kembar identik yang dibesarkan secara terpisah mempunyai angka kejadian yang lebih tinggi pada skizofrenia.

b.      Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis klien, sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau kekerasan dalam kehidupan klien, penolakan dapat dirasakan dari ibu, pengasuh atau teman yang bersikap dingin, cemas, dan tidak sensitive, pola asuh pada usia anak-anak yang tidak adekuat misalnya tidak ada kasih sayang, dan adanya
c.       Sosial Budaya
Kehidupan social budaya dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas seperti konflik sosial budaya dan kehidupan yang terisolasi disertai stress yang menumpuk.
d.      Organik
Gangguan orientasi realitas muncul karena kelainan organik yang biasa disebabkan infeksi, racun, trauma atau zat-zat substansi yang abnormal serta gangguan metabolic masuk didalamnya.     
2. Faktor presipitasi
Sikap persepsi : merasa tidak mampu, putus asa, tidak percaya diri, merasa gagal, merasa malang, kehilangan, rendah diri, perilaku agresif, kekerasan, ketidak adekuatan pengobatan dan penanganan gejala stress pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh dengan stress seperti kehilangan yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Dari data-data tersebut faktor presipitasi dikelompokan sebagai berikut :
a.  Stressor biologis
Yaitu yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptive termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi. Abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan melakukan secara selektif menanggapi rangsangan.
b.  Stress Lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi stress yang berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis yang ditemukan pada klien dengan halusinasi adalah penampilan tidak rapih dan tidak serasi, biasanya pembicaraan tidak terorganisir, aktifitas motorik meningkat atau menurun, impulsive alam perasaan berupa suasana emosi seperti sedih, putus asa dengan perilaku apatis, afek tumpul, datar, tidak sesuai, ambivalen dan selama interaksi klien tampak komat-kamit, kontak mata tidak ada, tertawa sendiri yang tidak terkaitnya dengan pembicaraan.
Observasi yang dilakukan pda klien akan ditemukan : bicara, senyum dan tertawa sendiri, menarik diri dan menghindar dari orang lain, tidak dapat membedakan nyata dan tidak nyata, tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi, curiga, bermusuhan, takut, ekspresi muka tegang dan mudah tersinggung.
d.  Mekanisme Koping
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurologic termasuk :
(1) Regresi : Dalam menghadapi stress, perilaku, perasaan dan cara berfikir mundur kembali ke tahap perkembangan sebelumnya.
(2) Proyeksi : Mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau suatu benda.
(3) Menarik diri : Sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
(4) Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.

E. Manifestasi Klinik
Menurut Towsend (1998) karakteristik perilaku yang dapat ditunjukkan klien dengan kondisi halusinasi berupa :
  1. Data subjektif
a.       Mendengar suara atau bunyi tanpa stimulus nyata
b.      Melihat gambaran tanpa stimulus nyata
c.       Mencium bau tanpa stimulus nyata
d.      Merasa makan sesuatu
e.       Merasa ada sesuatu pada kulitnya
f.       Takut terhadap suara atau bunyi yang didengarnya
g.      Ingin memukul dan melempar barang
  1. Data Obyektif
a.       Berbicara, senyum dan tertawa sendiri
b.      Pembicaraan kacau dan kadang tidak masuk akal
c.       Tidak dapat membedakan hal nyata dan tidak nyata
d.      Menarik diri dan menghindar dari orang lain
e.       Disorientasi
f.       Tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi rendah
g.      Perasaan curiga, takut, gelisah, bingung
h.      Ekspresi muka : tegang, muka merah, kadang pucat
i.        Tidak mampu melakukan aktivitas mandiri dan kurang bisa mengontrol diri
j.        Menunjukkan perilaku merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan persepsi sensori ( visual, dengar, kinesti, gustatori, taktil, penciuman)
Definisi : kondisi dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari stimuli yang dikaitkan dengan penurunan, berlebihan, distorsi atau kerusakan respon terhadap stimulasi (Nurjannah, 2004).
a.    Karakteristik :
1)      Disorientasi (waktu/tempat/orang)
2)      Konsentrasi kurang
3)      Penyimpangan pendengaran/penglihatan
4)      Gelisah
5)      Mudah tersinggung
6)      Perubahan kemampuan memecahkan masalah
7)      Perubahan pola perilaku
8)      Perubahan pola komunikasi
9)      Halusinasi *)
*) Karakteristik halusinasi sesuai dengan jenis halusinasi yang dialami
-                  halusinasi penglihatan : merasa melihat bayangan
-                  Halusinasi pendengaran : merasa mendengar suara/bisikan/ percakapan
-                  Halusinasi pengecap : merasa mengecap rasa seperti rasa darah/urin/feses
-                  Halusinasi peraba : merasa mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
-                  Halusinasi penghidu : membaui bau-bauan tertentu yang tidak menyenangkan
b.    Factor yang berhubungan :
a)       Rangsangan lingkungan yang berlebihan
b)      Stress psikis
c)       Perubahan penangkapan sensori, transmisi atau integrasi
d)      Kurangnya rangsang lingkungan
c.    Untuk menegakkan diagnose ini perlu didapatkan data utama :
a)       Halusinasi sesuai karakteristik jenis halusinasi
b)      Konsentrasi kurang
c)       Penyimpangan pendengaran/penglihatan
d)      Perubahan pola perilaku (mis: bicara atau tertawa sendiri)
e)       Perubahan pola komunikasi

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI



A.    Latar Belakang
UU No. 9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan pasal 2 yang dimaksud dengan kesehatan yang meliputi kesehatan badan, rohaniyah (mental) dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.
Menurut data statistik Direktorat Penyakit Jiwa, 50% penyakit jiwa kronis, 70% dengan skizoma. Salah satu penyembuhannya adalah dengan terapi aktivitas kelompok.
Aktivitas yang digunakan dalam TAK dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu: keadaan pasien, lingkungan, komponen terapis (pengetahuan, keterampilan dan kekampuan interaksi sosial).
Terapi aktivitas kelompok ini dapat digunakan sebagai media dalam hubungan antara perawat dan klien, dan sesama klien. Aktivitas kelompok dapat juga digunakan sebagai suatu media untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi klien. Oleh karena itu kami tertarik untuk melakukan terapi aktivitas kelompok.
B.     Pengertian
Terapi aktivitas kelompok sosialisasi adalah suatu upaya menfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan social.
C.     Tujuan
Tujuan Umum: Meningkatkan kemampuan klien dalam hubungan kelompok secara bertahap.
Tujuan Khusus:
  1. Klien dapat memperkenalkan diri sendiri: nama lengkap, nama panggilan, asal hobi
  2. Klien mampu menanyakan diri anggota kelompok lain: nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi
D.    Karakteristik Klien
1. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal
2. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai dengan stimulus.



E.     Jadwal Kegiatan
Hari/Tanggal         : Sabtu, 6 Agustus 2005
Waktu                   : jam 08.30 – 09.30 WIB
Tempat                  : Ruang makan bangsal MPKP RS Grhasia
Jumlah anggota     : 7 orang
F.      Pembagian Tugas
a. Leader               : Ika Purnamasari
b. Co Leader         : Sri Suparti
c. Fasilitator          : Yani Indrastuti
d. Observer           : Rini Nurulyati
e. Anggota Kelompok       : Dedi Cahyo
                                            Sri Suhartati
G.    Metode
1.      Dinamika kelompok
2.      Diskusi dan Tanya jawab
3.      bermain peran/stimulasi
H.    Alat
1.                                    Tape rekorder
2.      Kaset
3.      Bola
4.      Buku catatan dan pulpen
5.      Jadwal kegiatan klien
I.       Seting
1.      Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran
2.      Ruangan nyaman dan tenang
J.       Langkah Kegiatan Terapi Aktivitas
1.      Persiapan
a.       mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok
b.      mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2.      Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan:
a.       Memberi salam terapeutik
b.      Evaluasi/validasi
1.      Menanyakan perasan klien saat ini
2.      Menanyakan apakah telah mencoba memperkenalkan diri pada orang lain
c.       Kontrak
1.      menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu berkenalan dengan anggota kelompok
2.      menjelaskan aturan main berikut:
Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta ijin pada terapis
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3.      Tahap Kerja
a.       Hidupkan kaset pada tape rekorder dan edarkan bola berlawnan dengan jarum jam
b.      Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat giliran untuk berkenalan dengan anggota kelompok yang ada di sebelah kanan dengan cara:
    1. Memberi salam
2.   Menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi
3.      Menanyakan nama lengkap. Nama panggilan, asal dan hobi lawan bicara
4.      Dimulai oleh terapis sebagai contoh
c.   Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok mendapat giliran
d.      Hidupkan kembali kaset pada tape rekorder dan edarkan bola. Pada saat tape dimatikan, minta pada anggota kelompok yang memegang bola untuk memperkenalkan anggota kelompok yang di sebelah kanannya kepada kelompok, yaitu: nana lengkap, nama panggilan, asal dan hobi. Dimulai oleh terapis sebagai contoh
e.       Ulangi d sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.
f.       Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.
4.            Tahap Terminasi
a.       Evaluasi
1.      menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2.      Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b.      Rencana tindak lanjut
1. Menganjurkan tiap anggota kelompok latihan perkenalan
2. Memasukkan kegiatan berkenalan pada jadwal kegiatan harian klien
         c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu dengan bercakap-cakap tentang kehidupan sehari-hari.
2. Menyepakati waktu dan tempat
K.    Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS 2, dievaluasi kemampuan klien dalam berkenalan secara verbal dan non verbal dengan menggunakan formulir evaluasi berikut: